Zubair bin Awwam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Zubair bin Awwam

Post  isthar on Fri Jun 18, 2010 10:03 am

Zubair Bin Awaam

Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra pada umur 15 tahun (sumber lain antara 12-16 tahun), termasuk rombongan pertama yang masuk Islam karena merupakan golongan tujuh orang pertama yang menyatakan keislaman.

Memiliki 4 hubungan kekerabatan dengan Rasulullah:

1. Sepupu Rasulullah. Ibunya (Shafiyyah) dengan bapak Rasulullah (Abdullah) adalah kakak beradik. Shafiyyah adalah kakak perempuannya Abdullah. Abdullah adalah anak bungsu Abdul Muthalib (Kakek Rasulullah). Jadi, Zubair dan Rasulullah memiliki kakek yang sama. Keduanya memiliki paman yang Syahid di Perang Uhud bernama Hamzah bin Abdul Muthalib.

2. Kakak Ipar Rasulullah. Istri Zubair (Asma) kakaknya istri Rasulullah (Aisyah). Asma dan Aisyah merupakan anak dari Abu Bakar Siddiq. Jadi, Zubair dan Rasulullah memiliki mertua yang sama.

3. Keponakan Rasulullah. Istri Rasulullah, Khadijah merupakan bibinya Zubair.

4. Asal usul turunan/ Silsilah keluarga antara Rasulullah dan Zubair bertemu pada Qushaiy bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab.

Shafiyyah adalah ibunya Zubair. Mendidik Zubair dengan sangat keras. Ibunya sering menyiksanya. Ini dilakukan agar Zubair menjadi pria yang berani, kuat dan tangguh. Tak dipungkiri, sikap pemberani milik Zubair sejak kecil telah muncul berkat didikan yang keras dari ibunya. Keberaniannya ini juga tercermin dari keikutsertaannya dalam semua perang bersama Rasulullah SAW (Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak)

Kekuatan Zubair kecil ini terbuktikan saat Zubair kecil harus bertarung dengan seorang pria dewasa. Maka putuslah satu tangan pria dewasa itu.

Setelah kejadian ini, orang-orang mengeluhkan perilaku Zubair kepada ibunya. Shafiyyah tidak keberatan akan keluhan itu, kemudian Dia agak bertanya dengan penuh rasa sayang, Bagaimana sikap Zubair dalam pertempuran, "Apakah dia membuktikan dirinya sebagai seorang pemberani atau seorang pengecut?

Al Awwam adalah ayahnya Zubair. Meninggal saat Zubair masih anak-anak. Akhirnya Zubair pun dibawah perwalian pamannya yang bernama Naufil bin Khowailid. Berbeda dengan cara didik Syafiyyah, Naufil mendidik dan membesarkan Zubair dengan penuh kasih sayang.

Pernah Naufil mengeluhkan cara mendidik Syafiyyah pada Bani Hashim, (suku tempat bernaungnya Shafiyyah) karena kegelisahannya melihat Zubair sering dipukuli tanpa ampun dan menurutnya, Shafiyyah sangat jahat pada Zubair. Namun saat Shafiyyah mendengar keluhan dari Naufil, dia menyatakan bahwa ‘Semua orang yang melihat saya memukuli anak saya karena rasa permusuhan adalah keliru, saya memukulnya sedemikian rupa hanya untuk membuatnya bijaksana.’

Namun sayang saat Zubair memutuskan menjadi seorang muslim, pamannya yang penuh kasih sayang saat membesarkanya itu berubah menjadi orang terdepan yang menyiksanya dan memaksanya kembali ke agama nenek moyang. Jika sewaktu kecil Zubair didik sangat keras oleh ibunya, maka penyiksaan terhadap Zubair dari Pamannya ini lebih keras lagi dari siksaan yang didapatnya dari ibunya.

Pernah suatu ketika, pamannya itu menggulung tikar/kasur/matras ketubuh Zubair lalu kakinya digantung diatas dan dibawah, kepalanya ditaruh api yang membara kemudian menyekap dan mengurungnya dalam ruangan. Maka Zubair pun tersedak asap. Saat itulah Nufail bertanya kepada Zubair, “Apakah kamu akan kembali ke Agama nenek moyang atau tidak?” Kemudian dengan tegas Zubair menjawabnya “Tidak, tidak pernah!” “Sangat mustahil bagi saya sekarang untuk melepaskan agama Allah. Aku harus mati sebagai seorang Muslim dan bukan sebagai seorang kafir.

Zubair memiliki anak bernama Abdullah, al-Munzir, Urwah, Hamzah, Ja’far, Mus’ab, Khalid, Dia menamai anaknya dengan nama-nama para shuhada. Karena Ia sangat rindu untuk syahid. Ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama nabi-nabi padahal tidak ada nabi setelah Muhammad SAW. Karena itu, aku memberi nama anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan mereka syahid.”

Ada yang diberi nama Abdullah dari nama Abdullah bin Jahsy. Ada yang diberi nama Mundzir dari nama Mundzir bin Amru. Ada yang diberi nama Urwah dari nama Urwah bin Amru. Ada yang diberi nama Ja’far dari nama Ja’far bin Abi Thalib. Ada yang diberi nama Mushab dari nama Mushab bin Umair. Ada yang diberi nama Khalid dari nama Khalid bin Sa’id.

Hamzah bin Abdul Mutholib adalah paman Zubair yang syahid di perang Uhud. Ia melihat gugurnya sang paman, yaitu Hamzah, di Perang Uhud, di Perang Uhud. Ia juga melihat bagaimana tubuh pamannya dicabik-cabik oleh pasukan kafir. Ia berdiri dekat jenazah sang paman. Gigi-giginya terdengar gemeretak dan genggaman pedangnya semakin erat. Hanya satu yang dipikirkannya, yaitu balas dendam. Akan tetapi, wahyu segera turun melarang kaum muslimin melakukan balas dendam. Maka ada anaknya yang diberi nama Hamzah dari nama Hamzah bin Abdul Muthalib. Seperti itulah, semua anaknya diberi nama dengan nama-nama para syuhada dengan harapan bisa syahid seperti mereka.

Keteguhan hati di medan perang dan kecerdasannya dalam mengatur siasat perang adalah keistimewaannya. Meskipun pasukannya berjumlah 100 ribu prajurit, namun ia seakan-akan sendirian di arena pertempuran. Seakan-akan dia sendiri yang memikul tanggung jawab perang. Makanya dia juga disebut sebagai orang yang bernilai seribu orang.

Ketika Amru Ibnul Aash meminta bala bantuan tentara kepada Amirul Mukminin, Umar Ibnul Khattab untuk memperkuat pasukan memasuki negeri Mesir dan mengalahkan tentara Romawi yang kala itu menduduki Mesir, Umar Ra mengirim empat ribu prajurit yang dipimpin oleh empat orang komandan dan ia juga menulis surat yang isinya : Aku mengirim empat ribu prajurit bala bantuan yang dipimpin empat orang sahabat yang terkemuka dan masing-masing bernilai seribu orang.

Tahukah anda siapa empat orang komandan itu ? Mereka adalah Azzubair Ibnul Awwam, Ubadah Ibnu Assamit, Almiqdaad Ibnul Aswad dan Maslamah bin Mukhallid." Ketika menghadapi benteng Babilion, kaum muslimin sukar membuka dan menguasainya. Azzubair Ra memanjati dinding benteng dengan tangga. Lalu ia berseru " Allahu Akbar" dan disambut dengan kalimat tahuid oleh pasukan yang berada diluar benteng. hal ini membuat pasukan musuh gentar, panik dan meninggalkan pos-pos pertahanan mereka sehingga Azzubair dan kawan-kawannya bergegas membuka pintu gerbang maka tercapailah kemenangan yang gilang gemilang pada kaum muslimin.

Zubair sering disebut sebagai pedang pertama yang dihunuskan untuk membela Islam karena keberaniannya saat mendengar gossip tentang terbunuhnya Rasulullah. Saat itu, Zubair tengah beristirahat di rumahnya, langsung keluar rumah sambil menghunuskan pedang dan mengacungkannya, lalu ia berjalan di jalan-jalan kota Mekah laksana tiupan angin kencang. Saat itu umurnya baru 16 tahun, sungguh muda belia.

Zubair mula-mula meneliti berita tersebut dengan bertekad jika berita itu benar, maka niscaya pedangnya akan menebas semua pundak orang Quraisy, sehingga ia mengalahkan mereka atau mereka menewaskannya.

Lalu Ia segera mendatangi rumah Rasulullah SAW dengan wajah merah karena marah. Ternyata isu tidak benar, karena Rasulullah SAW tengah berada di rumahnya tanpa kurang satu apapun.

Melihat Zubair, Rasul pun bertanya mengapa ia membawa pedang. Dengan berapi-api, Zubair berucap bahwa ia bersyukur dan sangat gembira melihat Rasulullah SAW dalam keadaan baik-baik saja dan aman. Karena mendengar berita salah tentang dirinya, Rasul tersenyum. Rasul bertanya, jika memang isu tersebut terjadi apakah yang akan dilakukan Zubair.

Zubair berkata bahwa ia lebih memilih mati daripada harus hidup tanpa Rasulullah SAW. Lagi-lagi Rasul tersenyum sambil menunjuk pedang yang tengah dipegang Zubair.Rasul berkata “Inilah pedang pertama yang terhunus karena Allah SWT dan Rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah memohonkan bahagia dan mendoakan kebaikan bagi Zubair serta keampuhan bagi pedangnya.

Beliau selalu mengikuti peperangan bersama Rasulullah saw, setelah perang Uhud dan orang-orang Quraisy kembali ke Mekkah Rasulullah saw mengirim 70 orang sahabat untuk mendampingi dirinya, termasuk di dalamnya Abu Bakar dan Az-Zubair. (Al-Bukhari).

Saat pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan pulang ke Makkah, Zubair dan Abu Bakar diperintahkan Rasulullah memimpin kaum muslimin mengejar mereka agar mereka menganggap kaum muslimin masih mempunyai kekuatan, sehingga mereka tidak berpikir untuk menyerbu Madinah.

Abu Bakar dan Zubair membawa 70 tentara muslim. Sekalipun Abu Bakar dan Zubair sebenarnya sedang mengikuti satu pasukan yang menang perang dan berjumlah jauh lebih besar, namun kecerdikan dan siasat yang dipergunakan keduanya berhasil mengecoh mereka. Mereka menyangka bahwa pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Zubair adalah pasukan perintis dan di belakang pasukan ini masih ada pasukan yang jauh lebih besar. Tentu saja ini membuat mereka takut. Mereka pun mempercepat langkah menuju Makkah.

Pada perang Yarmuk, Az-Zubair bertarung dengan pasukan Romawi, namun pada saat tentara muslim bercerai berai, beliau berteriak : “Allahu Akbar” kemudian beliau menerobos ke tengah pasukan musuh sambil mengibaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan, anaknya Urwah pernah berkata tentangnya : “Az-Zubair memiliki tiga kali pukulan dengan pedangnya, saya pernah memasukkan jari saya didalamnya, dua diantaranya saat perang badar, dan satunya lagi saat perang Yarmuk.

Salah seorang sahabatnya pernah bercerita : “Saya pernah bersama Az-Zubair bin Al-’Awwam dalam hidupnya dan saya melihat dalam tubuhnya ada sesuatu, saya berkata kepadanya : demi Allah saya tidak pernah melihat badan seorangpun seperti tubuhmu, dia berkata kepada saya : demi Allah tidak ada luka dalam tubuh ini kecuali ikut berperang bersama Rasulullah saw dan dijalan Allah. Dan diceritakan tentangnya : sesungguhnya tidak ada gubernur/pemimpin, penjaga dan keluar sesuatu apapun kecuali dalam mengikuti perang bersama Nabi saw, atau Abu Bakar, Umar atau Utsman.

Saat terjadi pengepungan atas Bani Quraidzah dan mereka tidak mau menyerah Rasulullah saw mengutus beliau bersama Ali bin Abi Tholib, lalu keduanya berdiri di depan benteng dan mengulangi kata-katanya : “Demi Allah kalian akan merasakan seperti yang telah dirasaka oleh Hamzah, atau kami akan menaklukkan benteng ini”.

Nabi saw pernah berkata tentangnya : “Setiap Nabi punya pendamping dan penolong, dan pendamping saya adalah Az-Zubair”. (Muttafaqun alaih). Beliau juga sangat bangga dengan ucapan Rasulullah saw saat terjadi perang Uhud dan perang Bani Quraidzah : “lemparkanlah panahmu yang taruhannya adalah bapakku dan ibuku”.

Sayyidah Aisyah pernah berkata kepada Urwah bin Az-Zubar : “sesungguhnya kedua orang tuamu merupakan orang yang mengikuti seruan Allah dan Rasul-Nya setelah tertimpa kepada keduanya luka (maksudnya adalah Abu Bakar dan Az-Zubair). (Ibnu Majah).

Zubair melakukan hijrah senyak 2 kali. Pertama kali saat dia sudah tidak tahan lagi atas penyiksaan yang diterimanya dari Naufil, pamannya. Maka dengan izin Rasulullah SAW, Zubair akhirnya meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Abyssinia (sekarang Ethiopia). Namun ia tidak tinggal lama di kota ini. Setelah beberapa waktu ia kembali ke Makkah dan mulai berbisnis.

Bisnis yang digeluti Zubair membuatnya kaya raya dan menjadi salah satu sahabat terkaya, selain Usman bin Affan. Meski demikian, Zubair merupakan orang yang menginfakkan jiwa dan raganya, termasuk hartanya, untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi.

Kedermawanan, keberanian, dan pengorbanannya bersumber dari sikap tawakalnya yang sempurna kepada Allah. Karena dermawannya, sampai-sampai ia rela mendermakan nyawanya untuk Islam. Sebelum meninggal, ia berpesan kepada anaknya untuk melunasi utang-utangnya, “Jika kamu tidak mampu melunasinya, mintalah kepada pelindungku.”



Sang anak bertanya, “Siapa pelindung yang ayah maksud?” Zubair menjawab, “Allah! Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” Di kemudian hari, sang anak bercerita, “Demi Allah, setiap kali aku kesulitan membayar utangnya, aku berkata, ‘Wahai Pelindung Zubair, lunasilah utangnya.’ Maka Allah melunasi utangnya.”

Zubair memiliki seribu orang budak, dan selalu membayar pajaknya. Namun ia tidak pernah mengambil uang-uang tersebut melainkan memginfakkannya di jalan Allah SWT. Karena kesibukan bisnisnya inilah, maka Zubair tidak ikut menyertai kepergian Rasulullah SAW ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Saat ini terjadi, Zubair tengah dalam perjalanan bisnis ke Suriah. Ketika ia kembali ke Makkah, ia bertemu Rasulullah SAW dan Abu Bakar Siddiq yang tengah berangkat menuju Madinah dari Makkah. Karena saat itu ia berada dalam rombongan bisnis, maka Zubair memutuskan menunda kepergiannya hijrah bersama Rasulullah. Ia membekali Rasulullah dengan pakaian dan perbekalan untuk perjalanan ke Madinah. Namun tak lama kemudian, bersama sang bunda Safiyah, dan istrinya Asma, Zubair pergi menyusul Rasulullah SAW ke Madinah.

Di Madinah, Rasulullah SAW telah berhasil mewujudkan Moakhah atau hubungan kekerabatan berdasar Islam antara golongan Muhajirin dari Mekkah dengan golongan Anshor dari Madinah. Berdasarkan hubungan ini, Zubair menjadi saudara se-Islam dengan Salma, putera Salama yang berasal dari Bani Ash-hal, sebuah klan keluarga di Madinah dari suku Aus.

Thalhah dan Zubair mempunyai banyak kesamaan dalam menjalani roda kehidupan. Masa remaja, kekayaan, kedermawanan, keteguhan dalam beragama dan keberanian mereka hampir sama. Keduanya termasuk orang-orang yang masuk Islam di masa-masa awal, dan termasuk sepuluh orang yang dikabarkan oleh Rasul masuk surga, termasuk enam orang yang diamanahi Khalifah Umar untuk memilih khalifah pengganti. Bahkan, hingga saat kematian keduanya sama persis.

Di perang Jamal, seperti yang tersebut dalam kisah Thalhah, perjalanan hidup Zubair berakhir. Setelah ia mengetahui duduk permasalahannya, lalu meninggalkan peperangan, ia dikuntit oleh sejumlah orang dari kaum Tamim bernama Amru bin Jarmuz yang menginginkan perang tetap berkecamuk. Ketika Zubair sedang melaksanakan shalat, dia menikam Zubair.

Setelah itu, si pembunuh pergi menghadap Khalifah Ali, mengabarkan bahwa ia telah membunuh Zubair. Ia berharap kabar itu menyenangkan hati Ali karena yang ia tahu, Ali memusuhi Zubair.

Ketika Ali mengetahui ada pembunuh Zubair yang hendak menemuinya, ia langsung berseru, “Katakanlah kepada pembunuh Zubair putra Shafiah bahwa orang yang membunuh Zubair tempatnya di neraka.” Ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali, ia menciumnya. Lalu ia menangis dan berkata, “Demi Allah, sekian lama pedang ini melindungi Nabi dari marabahaya.”

Beliau pun gugur dalam perang Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64/66/67 tahun setelah 13 tahun setelah hijrah. Az-Zubair wafat pada hari Kamis bulan Jumadil Ula tahun 36 Hijriyyah. Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, “Zubair dan Thalhah akan menjadi tetanggaku di surga.”

sumber : http://hym2.multiply.com/journal/item/123

isthar

Jumlah posting : 22
Join date : 23.04.10
Age : 32

Lihat profil user http://www.buzzisearch.com/se.php?name=HeryBrenx&style=1

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik